Wawasan
nasional bangsa Indonesia adalah wawasan nusantara yang merupakan pedoman bagi
proses pembangunan nasional menuju tujuan nasional. Sedangkan ketahanan
nasional merupakan kondisi yang harus diwujudkan agar proses pencapaian tujuan
nasional tersebut dapat berjalan dengan sukses. Oleh karena itu, diperlukan
suatu konsepsi ketahanan nasional yang sesuai dengan karakteristik bangsa
Indonesia. Dengan adanya wawasan nusantara, kita harus dapat memiliki sikap dan
perilaku yang sesuai kejuangan, cinta tanah air serta rela berkorban bagi nusa
dan bangsa. Dalam kaitannya dengan pemuda penerus bangsa hendaknya ditanamkan
sikap wawasan nusantara sejak dini sehingga kecintaan mereka terhadap bangsa
dan negara lebih meyakini dan lebih dalam.
Ketahanan Nasional (Tannas) adalah konsep
bangsa Indonesia, Keselamatan Nasional (National Security) atau kelangsungan
hindup bangsa (national survival). National security yang sering kita tejemahkan
dengan keamanan nasional, lebih fokus pada kekuatan militer daripada kekuatan
lain yang ada dalam kehidupan suatu nangsa. Tannas yang juga disebut sebagai
comprehensive security, berpendapat bahwa kelangsungan hidup suatu bangsa atau
masyarakat tergantung pada keserasian aspek kehidupan seperti Ideologi-
Politik-Ekonomi-Sosial Budaya-Militer, dimana tiap aspek saling mempengaruhi.
Stabilitas dari networking aspek2 tsb akan menciptakan Tannas yang kuat.
Operasi Keamanan Dalam Negeri, strategi dari keduanya
didasarkan pada strategi tidak langsung. Strategi tidak langsung barangkali
dapat digambarkan yang dalam bahasa Jawa disebut: “nglurug tanpa bala, menang
tanpa ngasorake”, yang artinya kira2: berlaga tanpa pasukan, menang tanpa
mengalahkan. Dalam permainan game/strategi ini disebut “non zero sum game”,
dalam suatu penyelesaian sengketa kedua belah pihak mendapat manfaat. Awalnya
konsep Tannas ini diberi nama Pembinaan Nusantara, yang terdiri dari pembinaan
Wilayah (untuk menciptakan kesejahteraan) dan pembinaan Teritorial (untuk
menciptakan keamanan). Keduanya saling berkaitan, tidak mutually eksklusif,
kita tidak bisa meng-antagoniskan kedua pembinaan, karena dalam setiap
pembinaan kedua unsur tersebut harus diperhatikan, hanya yang mana lebih
diutamakan hanya masalah prioritas sesuai dengan kondisi pada saat itu. Teori
lain yang dipakai adalah teori kelangsungan hidup suatu “social system” yang
dikembangkan oleh Talcot Parson. Parson berpendapat jika suatu sistem sosial
ingin mempertahankan hidupnya dia harus mampu mengembangkan kemampuan: 1.
“pattern maintainence”; 2, “adaptation”; 3, “goal attainment”; 4,
“integration”; 5, “goal setting”. Tidak social system mampu mengembangkan semua
fungsi. Sebelum konsep ini berkembang sampai mempunyai kerangka yang jelas,
pada tahun 1972 presiden Suharto meminta agar konsep ini dikelola oleh
Lemhannas (Lembaga Pertahanan Nasional yang kemudian menjadi Lembaga Ketahanan
Nasional.
Perkembangan konsep ini kemudian tidak sesuai dengan apa yang
semula digagas di Seskoad. Wawasan Nusantara adalah suatu konsep bagaimana
bangsa ini melihat dirinya sendiri yang merupakan negara kepulauan. Jika
didasarkan hukum yang berlaku pada saat itu, maka Indonesia terdiri dari pulau2
yang dikelilingi perairan teritorial sepanjang 12 mil, maka selebihnya menjadi
wilayah internasional, situasi demikian membahayakan keamanan nasional dan
internasional, karena rawan konflik. Maka Indonesia mengusulkan agar wilayah
laut pedalaman, yang pengukurannya didasarkan berdasarkan pada prinsip2
tertentu dapat menjadi wilayah nasional.
Hubungan Wawasan Nusantara dengan Ketahanan Nasional adalah
Wawasan Nusantara memperkuat dan mempermudah pengelolaan Ketahanan Nasional.
Tetapi masalahnya justru adanya Wawasan Nusantara orang berpendapat bahwa
sebagai negara maritim kita harus mempunyai kekuatan maritim (Angkatan Laut)
yang kuat. Teknologi sekarang sudah memungkinkan terciptanya networking antar
unsur untuk mencapai tujuan strategi. Diharapkan generasi muda berusaha
mendalami dan menggali pengalaman masa lalu, supaya kita dapat menciptakan
konsep yang cocok dengan suasana dan lingkungan kita sendiri. Manfaat suatu
konsep adalah jika dapat dipraktekan, hobi kita suatu konsep untuk terus
menjadi wacana, yang hanya menghasilkan orang pintar bicara.
Apabila kita menggali ilmu di luar negeri, kita ambil
intisari ilmu untuk mengkaji keadaan kita berdasarkan ilmu tersebut. Bukan kita
tiru aplikasi ilmu itu dalam kondisi lain, lalu hasilnya ingin diterapkan di
Indonesia. Ini akan merugikan bangsa kita, kerugian tidak segera nampak, karena
proses berjalan lama. Ibarat kita beli sepatu, tidak cocok dikaki kita, jangan
kakinya yang dirubah tetapi sepatunya. Para pemuda harus menggeluti ilmu dari
muda, mau mempelajari sejarah secara teliti, karena sejarah adalah masalah lalu
kita. Masa depan dibangun dari pengambilan hikmah masa lalu. Tetapi juga harus
disadari bahwa penulis sejarah kita, kebanyakan adalah untuk kepentingan
penulis atau subyek yang ditulisnya, sehingga sebetulnya tidak bermanfaat untuk
kepentingan kita. Pelajari sejarah dan pengalaman secara sangat kritis, jangan
takut untuk dicap tidak patriotis, karena pengalaman menunjukkan bahwa orang
yang menyebut orang lain tidak patriotis, dia sendiri selalu berlindung dalam
kemunafikan.
Sumber : http://hyrra.wordpress.com/2012/03/26/wawasan-nasional/
Sumber : http://hyrra.wordpress.com/2012/03/26/wawasan-nasional/







0 komentar:
Posting Komentar